Belajar dari Mati Lampu: Cara Aman Pakai WiFi Tetangga (dan Risikonya)

Listrik padam lagi. Di Polewali, ini bukan pemandangan asing. Sore itu, modem mati, kuota habis, dan anak kos sebelah mulai teriak minta WiFi. Saya yang udah delapan tahun nulis soal gadget langsung teringat: pernah ada tetangga yang kena bobol datanya gara-gara nebeng WiFi tanpa proteksi. Dari situlah saya sadar, internet murah atau gratisan kadang punya harga lain yang harus dibayar.
Kenapa WiFi Tetangga Bisa Berbahaya?
Bayangkan Anda numpang colok kabel listrik ke rumah orang lain. Setiap kali stop kontak menyala, Anda nggak tahu peralatan apa saja yang terhubung di jaringan itu. Begitu pula saat Anda terhubung ke WiFi tetangga yang tidak Anda kenali pemiliknya. Jaringan itu mungkin saja dipasang dengan keamanan rendah atau bahkan sengaja dibiarkan terbuka untuk menjebak pengguna.
Di artikel Kompas Tekno beberapa waktu lalu, mereka mengingatkan bahwa jaringan WiFi terbuka rentan terhadap serangan man-in-the-middle. Artinya, orang lain bisa menyusup dan membaca data yang Anda kirim, mulai dari password email hingga nomor rekening. Semua karena ia tidak sengaja terhubung ke hotspot palsu yang menyamar. Saya sendiri pernah membantu seorang teman yang akun media sosialnya diretas setelah login di WiFi publik sebuah kafe.
Perangkat Kilat yang Bikin Rumah Makin Rentan
Pengalaman lain datang dari pemakaian repeater WiFi murah. Banyak tetangga di Polewali yang beli alat seharga lima puluh ribuan untuk memperkuat sinyal. Niatnya biar nonton YouTube lancar. Tapi alat semacam itu sering nggak punya pembaruan keamanan (firmware update). Celahnya bisa dimanfaatkan peretas untuk masuk ke perangkat lain di rumah, seperti HP atau laptop.
Saya pernah ngobrol dengan seorang teknisi jaringan. Katanya, router dan repeater adalah pintu masuk utama kalo nggak diatur password yang kuat. Ganti password default, matikan fitur WPS, dan aktifkan enkripsi WPA2 atau WPA3. Ini langkah sederhana tapi banyak diabaikan. Saking seringnya saya mendengar cerita tiba-tiba kuota boros padahal nggak dipakai, biasanya itu tanda ada yang nebeng tanpa izin.
Tips Aman Tetap Terkoneksi Tanpa Waswas
Sekarang, kalau listrik padam lagi, saya punya siasat. Saya pakai tethering dari HP ke laptop dengan kabel USB. Lebih aman karena koneksi langsung, nggak lewat jaringan terbuka. Lagipula, saya udah siapkan paket data cadangan khusus untuk darurat. Harga paket sebulan tidak sebanding dengan risiko kehilangan data.
Selain itu, biasakan mematikan otomatis WiFi scanning di ponsel. Banyak orang tidak sadar, ponselnya terus nyari sinyal, dan bisa otomatis terhubung ke WiFi publik tanpa izin. Di pengaturan, nonaktifkan fitur "Auto-connect to open networks". Juga, penting untuk selalu gunakan VPN saat mengakses akun penting kalau terpaksa pakai WiFi umum.
Dari semua kejadian, satu hal yang saya pegang: internet itu seperti air. Kalau sumbernya nggak jelas, lebih baik bawa bekal sendiri daripada minum dari sungai yang mungkin udah tercemar. Di era digital ini, keamanan bukan lagi urusan perusahaan besar, tapi keputusan kecil setiap hari. Risma, dari Polewali, yang masih lebih suka bayar internet sendiri daripada menyesal di kemudian hari.
Catatan: sumber resmi